Rasi Bintang dan Malam Langit Gelap

Rasi Bintang atau konstelasi merupakan sekelompok bintang yang tampak berhubungan membentuk suatu pola gugus atau konfigurasi khusus. Dalam ruang tiga dimensi, kebanyakan bintang yang kita amati tidak memiliki hubungan satu dengan lainnya, tetapi dapat terlihat seperti berkelompok pada bola langit malam. Manusia memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam mengenali pola dan sepanjang sejarah telah mengelompokkan bintang-bintang yang tampak berdekatan menjadi rasi-rasi bintang. Para pelaut Indonesia dahulu sebelum mengenal kompas telah menggunakan Rasi Bintang sebagai navigasi atau petunjuk arah dalam menjelajahi lautan, Rasi Bintang juga bisa sebagai petunjuk waktu atau musim dimana ada bintang-bintang yang hanya muncul hanya pada tertentu.

Rasi Bintang Orion

Rasi Bintang Orion

Susunan rasi bintang yang tidak resmi atau Asterisma, yaitu yang dikenal luas oleh masyarakat tapi tidak diakui oleh para ahli astronomi atau Himpunan Astronomi Internasional. Bintang-bintang pada Rasi Bintang atau Asterisma jarang yang mempunyai hubungan astrofisika mereka hanya kebetulan saja tampak berdekatan di langit yang tampak dari Bumi dan biasanya terpisah sangat jauh.

Dua kelompok bintang-bintang atau Rasi Bintang yang sangat mudah dikenali dan seringkali ditemukan, misalnya Orion atau Scorpius.

LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Indonesia telah menetapkan tanggal 6 Agustus sebagai hari keantariksaan. Hari Keantariksaan merujuk pada tanggal 6 Agustus 2013 disahkannya Undang-Undang Keantariksaan Nomor 21 tahun 2013. Undang-Undang itu dianggap sebagai landasan untuk pengembangan kegiatan keantariksaan di Indonesia, seperti antariksa, penginderaan jauh, penguasaan teknologi roket satelit dan aeronautika, peluncuran roket, dan komersialisasi keantariksaan.

Malam Langit Gelap, yang dilancarkan demi mengurangi polusi cahaya.

LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Indonesia telah menetapkan tanggal 6 Agustus sebagai hari keantariksaan. (Baca : Kampanye “Malam Langit Gelap”, LAPAN Janjikan Pesona Fenomena Langit)

Menyambut hari keantariksaan, LAPAN mengampanyekan gerakan sosial “Malam Langit Gelap”.  Kampanye ini mengajak masyarakat untuk turut bergerak mematikan lampu setiap tanggal 6 Agustus untuk meminimalisir polusi cahaya guna melihat benda-benda langit lebih jelas.

Gemerlap lampu-lampu malam menyebabkan polusi cahaya di Bumi. Ini menyulitkan para peneliti di Bumi untuk mengamati Galaksi Bima Sakti atau benda-benda langit lainnya, tanggal 6 Agustus dipilih sebagai Hari Antariksa Nasional karena Indonesia sedang berada di musim kemarau, sehingga kemungkinan malam cerah cukup tinggi. Bila dapat mengurangi polusi cahaya, Galaksi Bima Sakti dengan ratusan miliar bintangnya akan terlihat membentang dari utara ke selatan, untuk mengamati bintang-bintang dalam Galaksi Bima Sakti dibutuhkan tempat yang minim cahaya.

Di langit selatan kita bisa melihat rasi Layang-layang atau Salib Selatan (Crux) yang sering digunakan sebagai penunjuk arah selatan. Hampir di atas kepala kita saksikan rasi Kalajengking (Scorpio) dengan bintang terang Antares.

Selain itu pada malam tersebut saat langit tanpa bulan, planet Mars dan Saturnus bersanding dengan bintang raksasa merah Antares.

Jadi, sahabat. Bersiaplah untuk mengamati langit malam setiap tanggal 6 Agustus jangan lupa matikan lampu pukul “20.00 – 21.00” WIB

“Polusi cahaya adalah hamburan cahaya dari lampu-lampu kota yang terbuang ke angkasa yang menyebabkan langit menjadi terang. Ketika langit menjadi terang, objek-objek atau benda-benda langit menjadi tidak tampak. Warga kota yang paling parah terpapar polusi cahaya, seperti Singapura dan Dubai, tidak mungkin melihat bintang-bintang di langit.

Kota-kota besar di Indonesia, mulai mengalami polusi cahaya, walau tidak terlalu parah. “Karena itu, kampanye “Malam Langit Gelap” bertujuan mengedukasi publik supaya bersama-sama menjaga agar polusi cahaya tidak semakin parah sehingga kita masih bisa menikmati keindahan langit malam.

Kampanye ‘Malam Langit Gelap’ digelar secara serentak pada pukul 20.00 hingga 21.00. “Pertimbangannya, pengaruh matahari sudah tidak ada hanya dari pengaruh lampu kota saja. Lalu dari segi aktivitas manusia, sudah relatif berkurang. Kita ajak publik mematikan lampu di luar rumah dan bersama-sama menikmati keindahan langit malam.

Himpunan Astronomi Internasional telah membagi langit menjadi 88 rasi bintang resmi dengan batas-batas yang jelas, sehingga setiap arah hanya dimiliki oleh satu rasi bintang saja. Pada belahan bumi (hemisfer) utara, kebanyakan rasi bintangnya didasarkan pada tradisi Yunani, yang diwariskan melalui Abad Pertengahan, dan mengandung simbol-simbol Zodiak.

  1. Andromeda   (Putri Andomeda)
  2. Antlia   (Pompa Air)
  3. Apus   (Cendrawasih)
  4. Aquarius   (Pembawa Air)
  5. Aquila   (Elang)
  6. Ara   (Altar)
  7. Aries   (Domba Jantan)
  8. Auriga   (Sais Kereta Perang)
  9. Bootes   (Pengembala)
  10. Caelum   (Pahat)
  11. Camelopardalis   (Jerapah)
  12. Cancer   (Ketam)
  13. Canes Venatici   (Anjing-anjing Pemburu)
  14. Canis Major   (Anjing Besar)
  15. Canis Minor   (Anjing Kecil)
  16. Capricornus   (Kambing Laut)
  17. Carina   (Lunas Kapal Argo)
  18. Cassiopeia   (Ratu Ethiopia)
  19. Centaurus   (Centaur)
  20. Cepheus   (Raja Ethiopia)
  21. Cetus   (Ikan Paus)
  22. Chamaeleon   (Bunglon)
  23. Circinus   (Kompas)
  24. Columba   (Merpati)
  25. Coma Berenices   (Rambut Berenice)
  26. Corona Australis   (Mahkota Selatan; Yunani Kuno – Ptolemaeus)
  27. Corona Borealis   (Mahkota Utara)
  28. Corvus   (Burung Gagak)
  29. Crater  (Cangkir)
  30. Crux   (Salib Selatan)
  31. Cygnus   (Angsa)
  32. Delphinus   (Lumba-lumba)
  33. Dorado   (Ikan Todak)
  34. Draco   (Naga)
  35. Equuleus   (Kuda kecil)
  36. Eridanus   (Sungai)
  37. Fornax   (Tungku)
  38. Gemini   (Kembar)
  39. Grus   (Burung bangau)
  40. Hercules   (Hercules, anak Zeus)
  41. Horologium   (Jam)
  42. Hydra   (Naga laut)
  43. Hydrus   (Ular air)
  44. Indus   (Indian)
  45. Lacerta   (Kadal)
  46. Leo   (Singa)
  47. Leo minor   (Singa kecil)
  48. Lepus   (Kelinci)
  49. Libra   (Timbangan)
  50. Lupus   (Serigala)
  51. Lynx   ( Lynx)
  52. Lyra   (Harpa)
  53. Mensa   ( Meja)
  54. Microscopium   (Mikroskop)
  55. Monoceros   (Kuda Bertanduk)
  56. Musca   (Lalat)
  57. Norma   (Timabangan Datar)
  58. Octans   (Oktan)
  59. Ophiucus   (Tangan Naga)
  60. Orion   (Pemburu)
  61. Pavo   (Merak)
  62. Pegasus   (Kuda bersayap)
  63. Perseus   (Perseus)
  64. Phoenix   (Phoenix)
  65. Pictor   (Kuda-kuda)
  66. Pisces   (Ikan)
  67. Piscis Austrinus   (Ikan Selatan)
  68. Puppis   (Buritan kapal Argo)
  69. Pyxis   (Kompas kapal Argo)
  70. Reticulum   (Jaring)
  71. Sagitta   (Anak Panah)
  72. Sagittarius   (Pemanah)
  73. Scorpius   (Kalajengking)
  74. Sculptor   (Alat Pemahat)
  75. Scutum   (Perisai)
  76. Serpens   (Ular)
  77. Sextans   (Sekstan)
  78. Taurus   (Lembu Jantan)
  79. Telescopium   (Teleskop)
  80. Triangulum   (Segitiga)
  81. Triangulum Australe   (Segitiga Selatan)
  82. Tucana   (Burung tukan)
  83. Ursa Major   (Beruang Besar)
  84. Ursa Minor   (Beruang Kecil)
  85. Vela   (Layar Kapal Argo)
  86. Virgo   (Sang Perawan)
  87. Volans   (Ikan Terbang)
  88. Vulpecula   (Rubah)

Referensi: Republika.co.id,  Wikipedia.org

 

 

Add Comment