Jenis-Jenis Awan Yang Perlu Kita Ketahui

Pernahkah kamu berpikir awan terbuat dari apa? Apa yang membuatnya bisa terlihat lembut seperti kapas namun mampu menciptakan hujan? Awan merupakan akumulasi dari butiran-butiran air, kristal es, atau uap air, yang merupakan hasil evaporasi dari permukaan bumi. Butiran-butiran tersebut lalu tertahan di atmosfer bumi sehingga menggumpal dan menjadikannya awan.

Uap air berubah menjadi awan pada saat ia menjadi dingin dan terkondensasi di udara. Agar dapat terkondensasi, uap air harus menempel kepada suatu benda padat seperti debu, serbuk sari, butiran air, atau kristal es. Uap air yang terkondensasi di permukaan bumi disebut dengan embun.

Simak video penjelasan proses pembentukan awan yang lebih rinci:

Tapi tahukah kamu awan juga dapat terbentuk di permukaan tanah? Awan ini kita kenal dengan sebutan kabut. Cara terbentuknya sama dengan awan, hanya saja kabut terbentuk jika materi pembentuknya berada dekat dengan permukaan tanah dan temperatur di sekitarnya berada kurang dari 2.5 °C. Inilah mengapa ia hanya terlihat pada saat musim hujan atau di daerah dengan suhu rendah.

Lalu, bagaimana caranya awan yang berada di langit menciptakan hujan?

Simak proses bagaimana awan bisa menghasilkan hujan di video singkat ini:

Bentuk awan bervariasi jika dilihat dari bentuk dan ukurannya. Namun walau begitu, proses pembentukannya tetaplah sama. Jenis-jenis awan yang berbeda ini diklasifikasikan berdasarkan bentuk dan letak ketinggiannya. Namun beberapa juga ada yang dikelompokan berdasarkan karakteristik unik mereka, seperti awan yang terbentuk di pegunungan (awan Lenticular) atau yang terbentuk di bawah awan yang sudah ada (awan Mammatus).

Namun, kali ini tim kitacerdas akan membahas lebih dalam mengenai klasifikasi awan yang dikelompokan berdasarkan letak ketinggiannya, yaitu:

Awan rendah (0-2 km dari permukaan tanah)

1. Stratokumulus

awan stratocumulus
Orang-orang biasanya berpikir pasti akan turun hujan jika awan ini muncul. Namun pada kenyataannya awan ini bukanlah awan yang muncul sebelum hujan

Awan ini terletak sangat rendah sehingga dari tanah kita dapat melihatnya dengan jelas. Awan stratokumulus dapat menghasilkan hujan namun biasanya tidak lebat. Awan ini berbentuk bulat dengan gumpalan yang nampak berkumpul atau memisah secara teratur di langit dengan warna keabu-abuan.

Awan stratocumulus terlihat seperti selimut putih tebal yang memiliki sedikit kemiripan dengan awan kumulus, hanya saja jauh lebih besar. Awan jenis ini berwarna terang hingga abu-abu gelap tergantung dari ketebalannya.

2. Stratus

awan stratus
Awan ini terdiri dari lapisan awan-awan tipis yang menyelimuti langit

Awan stratus berbentuk lapisan tipis melebar pada langit dengan warna putih menuju keabu-abuan. Awan ini merupakan awan yang paling banyak ditemui di seluruh dunia, khususnya di daerah pesisir dan pegunungan.

Ia juga merupakan tanda kestabilan tekanan udara pada atmosfer. Bentuk awan stratus sangat teratur di langit meski kadang ditemui bentuk yang pecah tak beraturan. Kadang awan stratus menjadi tebal dan menutup cahaya matahari dan bulan.

Ia dapat juga dikatakan sebagai kabut karena letaknya yang dekat dengan permukaan tanah. Kamu dapat dengan mudah mengenali jenis awan ini dari lapisan awan yang memanjang secara horizontal dan berbentuk seperti kabut.

Ia dapat memproduksi hujan atau salju ringan jika temperatur di bawahnya dingin. Awan ini dapat berubah menjadi awan nimbostratus jika mendapatkan kelembapan yang cukup di permukaannya.

3. Nimbostratus

awan nimbostratus
Tekstur awan nimbostratus yang tebal kerap menutup cahaya matahari dan dipercaya sebagai pertanda akan turun hujan

Nimbostratus berasal dari kata Latin “nimbus” yang berarti hujan, dan “stratus” yang berarti tersebar. Awan nimbostratus berbentuk tebal dan cenderung tidak teratur dengan warna putih keabu-abuan. Awan ini kerap sekali menghasilkan salju maupun hujan. Untuk daerah tropis awan ini menghasilkan hujan yang cukup tinggi, sedangkan di daerah subtropis hingga dingin mampu menghasilkan salju.

Awan ini dapat terbentuk dari awan jenis lain seperti contohnya awan altostratus yang sedang naik atau awan kumulonimbus yang sedang menyebar.

Awan Sedang (2-6 km dari permukaan tanah)

1. Altokumulus

awan altocumulus
Jika kamu melihat awan altokumulus di pagi hari, maka besar kemungkinan akan ada badai di sore harinya

Awan altokumulus berbentuk bulatan kecil-kecil seperti kapas yang menyebar luas di langit. Satu antara yang lain seperti terikat. Awan altokumulus memiliki warna putih hingga abu-abu. Persebaran awan ini sangat teratur di langit dan dapat menyelimuti sebagian besar permukaan langit. Munculnya awan altokumulus terkadang menandakan akan terjadinya hujan deras disertai petir (badai).

Awan ini terbentuk di ketinggian rendah sehingga tercipta dari butiran air. Namun pada saat naik ke udara, kristal es juga ikut membentuk awan ini. Awan altrokumulus biasanya muncul di antara awan cirrus dan awan stratus. Saat awan ini muncul bersamaan dengan awan jenis lain, biasanya akan diikuti oleh badai.

2. Altostratus

awan altostratus
Awan ini dapat berubah menjadi awan nimbostratus pada saat mencapai kelembapan yang tinggi hingga dapat menciptakan hujan deras

Awan altostratus banyak sekali mengandung butiran air. Oleh karena itu awan ini dapat menghasilkan hujan ringan dan virga (hujan yang tidak sampai ke tanah). Secara fisik, awan ini berbentuk lembaran-lembaran tipis dan membentuk jalur-jalur berwarna keabu-abuan. Inilah mengapa ia kerap juga disebut dengan “boring cloud”.

Awan ini menutup sebagian besar permukaan langit, meski beberapa bagian masih dapat ditembus oleh cahaya matahari. Terbentuknya awan ini biasanya saat senja dan malam hari lalu akan perlahan hilang jika siang datang dengan matahari yang terik. Awan altostratus dapat membentang bermil-mil jauhnya dan biasa dikaitkan dengan munculnya hujan ringan atau salju.

Awan tinggi (6-12 km dari permukaan tanah)

1. Cirrus

awan cirrus
Kemunculan awan ini merupakan pertanda bagi cuaca baik dan hari yang cerah

Awan ini memiliki struktur yang sangat halus seperti serat dan berbentuk seperti bulu burung. Selain itu awan cirrus juga sering berbentuk seperti pita yang melengkung di langit seakan-akan bertemu pada beberapa titik di ufuk. Awan cirrus sering mengandung kristal es sehingga awan ini sangat jarang sekali menghasilkan hujan.

Awan ini kerap menghalau cahaya matahari atau bulan sehingga menimbulkan fenomena alam halo. Fenomena ini terjadi akibat kristal es dalam awan cirrus yang membiaskan sinar matahari sehingga membentuk lingkaran cincin yang mengelilingi matahari.

Awan ini dapat dengan mudah dibedakan dari awan lainnya karena memiliki warna kuning terang atau merah sebelum matahari terbit dan setelah matahari terbenam.

2. Cirrostratus

awan cirrostratus
Awan cirrostratus dapat berubah menjadi awan altostratus pada saat terbentuk di ketinggian rendah

Awan cirrostratus memiliki warna agak kelabu dan bertekstur sangat halus saat berada di atmosfer. Bentuknya kadang menyerupai anyaman tidak teratur. Awan ini memiliki serabut-serabut tipis dan dapat menutup sebagian isi langit. Awan cirrostratus mengandung kristal es yang banyak karena letaknya yang sangat tinggi di atmosfer. Pada keadaan tertentu, awan cirrostratus akan menebal dan membuat fenomena halo (lingkaran pada matahari atau bulan).

Awan ini bersifat translusen sehingga memudahkan cahaya matahari atau bulan untuk tembus. Ia memiliki warna yang beragam, mulai dari abu-abu cerah hingga putih, tergantung kepada ketebalannya. Awan cirrostratus yang berwarna putih berarti ia menyimpan banyak cairan, pertanda kemunculan warm front system.

Awan ini hampir selalu bergerak ke arah barat. Kemunculan awan ini dikaitkan dengan akan turunnya hujan di hari berikutnya.

3. Cirrokumulus

awan cirrocumulus
Awan ini memiliki garis panjang berstruktur yang berbentuk seperti gerombolan ikan mackerel

Jenis awan cirrocumulus memiliki bentuk putus-putus teratur seperti gerombolan domba atau sisik ikan yang sangat tipis di langit. Karena letaknya yang sangat tinggi, awan ini menyimpan banyak sekali kristal es dan tetesan air yang sangat dingin. Karena susunan yang teratur ini para pelaut menyebut awan ini sebagai “gerombolan ikan mackerel di langit”.

Ia tidak pernah memproduksi hujan meskipun dapat menjadi pertanda cuaca dingin, dan juga tidak pernah berinteraksi dengan awan lain guna membentuk jenis awan yang lebih besar.

Awan vertikal (450 m –  km dari permukaan tanah)

1. Kumulus

awan cumulus
Awan ini merupakan pertanda bahwa cuaca pada hari tersebut akan normal

Awan ini berbentuk memanjang ke atas dan tebal. Nama awan ini berasal dari kata latin “cumulo” yang berarti tumpukan. Awan kumulus terjadi karena tekanan udara di atmosfer sedang labil. Jika keadaan ini terus berlanjut, maka awan ini bisa tumbuh dan berubah menjadi awan cumulonimbus. Kandungan awan kumulus adalah butiran air serta es yang sangat dingin.

Pada bagian yang terkena cahaya matahari akan terlihat kilauan berwarna putih. Jenis awan ini merupakan awan yang paling sering dilihat dan dapat memproduksi hujan ringan. Ia dapat ditemukan di berbagai dunia bahkan di daerah kutub.

2. Kumulonimbus

awan cumulonimbus
Ia merupakan satu-satunya jenis awan yang masuk ke dalam dua kategori sekaligus

Awan ini adalah perkembangan dari awan kumulus dengan bentuk yang lebih besar serta menjulang ke atas seperti kubah dan berwarna abu-abu hingga gelap. Awan ini erat hubungannya dengan hujan deras yang disertai angin dan petir. Awan kumulonimbus kerap disebut awan yang berbahaya karena di dalamnya terdapat banyak sekali muatan-muatan listrik.

Ia berbentuk vertikal dan memanjang dari 1 hingga 8 km, inilah mengapa ia juga kadang disebut sebagai “tower cloud”. Karena itulah juga masuk ke dalam dua kategori, yaitu awan rendah dan awan tinggi. Pada ketinggian rendah, awan ini terbentuk dari butiran air, sementara pada ketinggian di atas 6 km ia terbentuk dari kristal es.

Ia biasa terlihat pada saat sore hari di musim panas dan semi, pada saat permukaan bumi melepaskan energi panas. Kemunculan awan ini dikaitkan dengan munculnya badai di suatu tempat.

Apa sekarang kamu menjadi lebih paham mengenai pengklasifikasian awan berdasarkan ketinggiannya? Tinggalkan pertanyaan dan pendapatmu di kolom komentar, serta jangan lupa untuk membagikan tulisan ini kepada teman-temanmu, ya!

Add Comment