Pestisida: Jenis, Kegunaan dan Bahaya di Balik Penggunaannya

Pestisida merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut substansi yang dipakai untuk membunuh, mencegah atau mengendalikan hama tanaman atau binatang. Karena penggunaan pestisida berbahan kimia di dalam sektor pertanian, masyarakat kini terekspos dengan residu pestisida berkadar rendah.

Pestisida singkatnya adalah bahan kimia yang digunakan untuk membasmi hama. Secara umum, pestisida bisa dibuat dari bahan kimia maupun biologis, seperti virus, bakteri, antimikroba.

Penggunaan pestisida sudah semakin umum dan seringkali disamakan dengan produk pelindung tanaman. Padahal pada kenyataannya, ia hanya ditujukan untuk membasmi hama tanaman.

Tahukah kamu bahwa pestisida ternyata sudah digunakan dari zaman dahulu kala? Masyarakat pada zaman pemburu-pengumpul, biasa menggunakan pestisida untuk melindungi pertanian mereka dari serangga dan hama.

Bangsa Sumeria kuno memanfaatkan sulfur sebagai insektisida. Sedangkan bangsa medieval bereksperimen dengan menggunakan bahan arsenik.

Bangsa China juga menggunakan pestisida berbahan dasar arsenik dan juga merkuri untuk membasmi lintah dan hama lain. Sementara bangsa Yunani dan Romawi kuno menggunakan minyak, abu, sulfur dan material lain untuk melindungi persediaan makanan mereka.

Pada abad ke-19, para ilmuwan lebih fokus kepada pembuatan pestisida berbahan alami yang dibuat dari akar tanaman tropis dan krisantemum. Baru pada tahun 1939 lah Dichloro-Diphenyl-Trichloroethane (DDT) ditemukan.

Bahan ini sangat efektif untuk membasmi hama serangga dan karena itulah bahan tersebut banyak digunakan di berbagai dunia sebagai insektisida. Namun 20 tahun kemudian, penggunaan bahan ini telah dilarang di 86 negara karena diketahui memiliki efek biologis yang berbahaya bagi manusia dan makhluk hidup lain.

The Food and Agriculture Organization (FAO) mendefinisikan pestisida sebagai:

“Zat atau campuran zat yang bertujuan untuk mencegah, membunuh, atau mengendalikan hama tertentu, termasuk vektor penyakit bagi manusia dan hewan, spesies tanaman atau hewan yang tidak diinginkan yang dapat menyebabkan kerusakan selama produksi, pemrosesan, penyimpanan, transportasi, atau pemasaran bahan pertanian (termasuk hasil hutan, hasil perikanan, dan hasil peternakan).

Istilah ini juga mencakup zat yang mengendalikan pertumbuhan tanaman, merontokkan daun, mengeringkan tanaman, mencegah kerontokkan buah, dan sebagainya yang berguna untuk mengendalikan hama dan memitigasi efek dari keberadaan hama, baik sebelum maupun setelah panen.”

Jenis-jenis Pestisida

pestisida
Terdapat banyak macam dan jenis pestisida yang diciptakan untuk target hama tertentu

Jika diklasifikasikan berdasarkan target penggunaannya, pestisida dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu:

  1. Insektisida: Untuk membasmi hama serangga
  2. Herbisida: Untuk membasmi hama tumbuhan
  3. Rodentisida: Untuk membasmi hama pengerat
  4. Fungisida: Untuk mengontrol jumlah jamur dan lumut

Sementara berdasarkan bahan kandungannya, pestisida dapat dibagi menjadi:

  • Organophosphate: Banyak dari insektisida mengandung bahan ini. Ia bekerja pada sistem saraf dan mampu mengganggu enzim yang mengatur neurotransmitter.
  • Karbamat: Mirip dengan pestisida berbahan organophosphorus, pestisida dengan kandungan karbamat juga mempengaruhi sistem saraf dan mengganggu enzim. Namun efek pada enzim tersebut dapat dibalikan.
  • Insektisida Organoklorin: Pada zaman dulu bahan ini biasa digunakan, namun karena menimbulkan efek yang membahayakan kesehatan, penggunaannya kini dilarang (contoh: DDT, klordan, toksapen)
  • Pyrethroid: Ia merupakan bahan sintetis dari pyrethrin. Bahan ini lebih organik karena didapatkan dari krisantemum.
  • Sulfonylurea herbisida: Ia biasa digunakan untuk mengendalikan hama tanaman (rumput, lumut dan lainnya)
  • Biopestisida: Ia merupakan pestisida berbahan alami yang didapatkan dari hewan, tumbuhan, bakteri dan mineral.

Bahaya Di Dalam Pestisida

pestisida
Di balik fungsinya, pestisida memiliki efek samping lain yang dapat membahayakan kehidupan

Karena sifatnya, pestisida memang berbahaya bagi organisme hidup dan terkadang termasuk makhluk hidup lain yang bukan targetnya, seperti manusia. Inilah mengapa penggunaan pestisida harus dilakukan oleh orang yang tepat. Pada beberapa kasus, pestisida bahkan dapat mengakibatkan kematian akibat keracunan.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, penggunaan bahan DDT telah dilarang di berbagai negara karena menimbulkan ancaman pada lingkungan dan kesehatan manusia.

Selain itu, bahan lain seperti lindane juga dipercaya dapat menyebabkan kanker dan kandungannya mampu bertahan di dalam tanah dan air untuk waktu yang lama. Bahan-bahan seperti ini lantas dapat memengaruhi ekosistem dan juga terakumulasi ke dalam rantai makanan.

Populasi manusia secara umum kini sudah terpapar kandungan pestisida melalui air dan makanan yang dikonsumsi meskipun dalam kadar rendah. Ancaman yang lebih serius dihadapi oleh mereka yang secara langsung terpapar oleh pestisida, seperti petani dan mereka yang berada di area pertanian tersebut.

  • Kandungan beracun di dalam pestisida didesain untuk dapat lepas ke udara dengan bebas. Dan meskipun pestisida dibuat untuk membasmi hama tertentu, banyak kasus dimana pestisida membahayakan makhluk hidup di luar targetnya. Pestisida juga mampu mengendap di dalam air, udara, sedimen dan terakumulasi di dalam makanan.
  • Pestisida telah dikaitkan pada gangguan kesehatan pada manusia, baik untuk jangka pendek seperti mual dan sakit kepala, maupun jangka panjang seperti kanker dan gangguan reproduksi.
  • Dapat mengurangi keanekaragaman hayati pada ekosistem tanah. Jika tidak terdapat bahan kimia di dalam tanah, maka kualitas tanah akan meningkat dan karenanya akan meningkatkan ketahanan air. Hal ini penting untuk menjaga tumbuhan agar tumbuh baik.

Di negara-negara berkembang, keracunan akut pestisida untuk jangka pendek adalah jenis keracunan yang paling mengkhawatirkan. Namun, di negara-negara maju, yang terjadi adalah kebalikannya.

Keracunan pestisida jangka pendek dapat dikendalikan, namun masalah utamanya adalah keracunan jangka panjang akibat paparan pestisida dalam jumlah sedikit namun berlangsung cukup lama.

Peraturan Penggunaan dan Opsi Alternatif Pestisida

pestisida
Terdapat metode lain yang lebih ramah lingkungan dan aman untuk membasmi hama

World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk mengurangi penggunaan pestisida jika memungkinkan. Tentukan sejauh mana penggunaan pestisida dibutuhkan kemudian carilah jalan alternatif non-kimia untuk menyelesaikan permasalahan pada pertanian. Jika penggunaan pestisida memang harus dilakukan dan tidak ada jalan alternatif, maka carilah produk yang memiliki resiko paling rendah terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Saat menggunakan pestisida, patuhilah arahan dan instruksi manufaktur. Pada banyak kasus, personal protective equipment (PPE) turut digunakan untuk menghindari kontak langsung dengan pestisida serta mengurangi eksposur saat pengaplikasiannya.

Perjanjian internasional seperti Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants dan Rotterdam Convention on Prior Informed Consent memastikan negara pesertanya untuk taat dalam melindungi populasinya dari eksposur terhadap pestisida beracun.

Agar tepat sasaran dan menghasilkan hasil yang diinginkan, informasi terhadap penggunaan, insiden dan eksposur terhadap pestisida diperlukan. Namun sayangnya, di berbagai negara informasi seperti ini masih kurang.

Cara lain yang dapat digunakan untuk mencegah keracunan akibat pestisida adalah dengan menggunakan metode alternatif.

Beberapa metode alternatif yang bisa dicoba adalah kultivasi, penggunaan pengendali hama organik (seperti pheromone dan mikroba), teknik genetik dan pengendalian reproduksi hama itu sendiri. Penggunaan sampah domestik yang dikomposkan juga dapat digunakan untuk mengendalikan hama.

Metode kultivasi sendiri merupakan metode yang melibatkan polikultur, crop rotation, menanam makanan di area yang tidak terdapat hama, penanaman berdasarkan waktu di mana hama tidak aktif, menggunakan umpan yang akan menarik perhatian hama dari tanaman sebenarnya. Di Amerika, petani juga melakukan penyemprotan air panas untuk membasmi hama.

Penggunaan makhluk hidup yang secara alami merupakan predator dari hama juga dapat menjadi salah satu opsi alternatif. Pengendalian reproduksi hama dapat dilakukan dengan mensterilkan hama jantan lalu melepaskannya kembali. Hal ini dilakukan agar pada saat mereka bertemu dengan hama betina, mereka tidak akan bereproduksi.

Cara ini banyak digunakan terhadap medfly, tsetse fly dan ngengat gipsi. Namun kekurangan dari metode ini adalah memakan waktu dan biaya yang banyak. Selain itu, cara ini juga hanya dapat dilakukan pada beberapa spesies hama.

Penggunaan pestisida memang tidak secara eksplisit dilarang. Namun jika kamu ingin menghindari bahaya yang mungkin terjadi dalam jangka panjang maupun jangka pendek, pestisida organik dan metode pengendalian hama alternatif dapat menjadi opsimu.

Apakah kamu menyukai informasi di atas? Tinggalkan pertanyaan serta pesanmu pada kolom komentar, dan jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada teman-temanmu.

Add Comment