Arti Warna Bendera Merah Putih Bendera Indonesia

Tanggal 17 Agustus, kita kembali merayakan kemerdekaan bangsa kita dari pendudukan bangsa-bangsa asing, sebut saja beberapa bangsa yang pernah melakukan kolonialisme seperti bangsa Belanda, Portugis dengan semangat 3G: Gold, Glory dan Gospel. Serta penjajahan yang dilakukan Jepang pada era Perang Dunia II akibat moto dan semangat Kekaisaran Jepang pada saat itu, yaitu “Jepang Cahaya Asia” dimana Jepang berkeinginan menguasai seluruh Asia.

Kenapa kita sebut sebagai bangsa Indonesia bukan negara Indonesia? Pada saat era kolonialisme negara kita belum terbentuk seperti yang kita kenal sekarang yang sudah berbentuk republik, bahkan saat itu nama Indonesia pun belum ada. Nama resmi dari pulau-pulau di Nusantara yang masuk dalam teritori koloni Belanda bernama resmi Hindia Belanda (Dutch East Indies), yang sebenarnya adalah persatuan dari banyak suku-suku dan kerajaan-kerajaan kucil di wilayah kepulauan Nusantara.

Baru kemudian bekas wilayah kolonial Hindia Belanda, dengan semangat nasionalisme, bersatu membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nama bangsa Indonesia mulai diperkenalkan sejak Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Wilayah NKRI yang kita kenal sekarang dengan sebutan dari Sabang sampai Merauke, sebenarnya adalah berdasarkan warisan koloni teritorial Belanda di Nusantara dan saat Republik Indonesia didirikan maka wilayah NKRI adalah wilayah warisan bekas koloni Belanda.

Bumi Indonesia kaya akan hasil alammya dan memiliki letak geografis yang strategis untuk melakukan perdagangan internasional. Karena itulah banyak bangsa di dunia ingin menguasai hasil kekayaan alam negeri ini dan merebut posisi strategis lokasi geografis Nusantara dengan menjajah bangsa-bangsa di Nusantara. Dengan menjajah, bangsa-bangsa asing itu dapat melakukan perdagangan dan menimbun kekayaan dari bangsa-bangsa di Nusantara untuk dibawa ke negara mereka.

Sejarah Bendera Merah Putih

Dalam merayakan kemerdekaan, Bendera Merah Putih dikibarkan di mana-mana. Namun, ada pertanyaan mendasar kita, kenapa bendera Indonesia berwarna merah putih? Dari mana asal usul dan sejarah pemilihan warna merah putih itu? Mari kita kilas balik pada sejarah ketika kerajaan-kerajaan di Nusantara eksis. Sebut saja Singasari, Majapahit dan lain-lain.

Bendera Merah Putih merupakan panji-panji dan pemersatu Nusantara pada masa itu. Sebenarnya Bendera Merah Putih diadopsi dari Bendera kebesaran Majapahit, bukan diambil dari bendera Belanda yang warna birunya dirobek seperti yang banyak diketahui orang Indonesia. Ini adalah adalah salah satu contoh kesalahkaprahan dalam pengajaran sejarah bangsa yang banyak diajarkan kepada anak-anak di sekolah yang akhirnya menyebabkan paham bahwa Bendera Merah Putih adalah dari bendera Belanda yang dirobek warna birunya saat pertempuran di Surabaya.

Bendera-Merah-Putih-Berkibar.jpg

Bendera Merah Putih berkibar – Sumber: Koleksi Pribadi R.B. Reagan

Konon para prajurit Kerajaan Majapahit diharuskan bersumpah setia sampai mati untuk melindungi dimana dan kapan pun bendera merah putih ini berada. Artinya, Sang Saka Merah Putih diambil berdasarkan warna kerajaan Majapahit. Selain itu moto nasional juga dipercaya merupakan saduran dari puisi Jawa kuno berjudul “Kakawin Sutasoma” yang ditulis oleh Mpu Tantular dari Majapahit.

Sebelum Majapahit, dikabarkan bahwa ada bendara merah putih yang dikibarkan pada tahun 1292 dimana saat itu terjadi perang antara Jayakatwang melawan Kertanegara. Penggunaan bendera merah putih di Kerajaan Majapahit tertulis dalam buku karangan Mpu Prapanca yang berjudul Negarakertagama. Pada buku tersebut diceritakan bahwa bendera merah putih sudah menjadi benda sakral yang selalu digunakan setiap ada upacara hari kebesaran raja Hayam Wuruk saat ia berkuasa di tahun 1350 hingga 1389. Mpu Prapanca juga berpendapat bahwa bagi Majapahit, warna merah dan putih adalah warna yang mulia. Hal ini ia simpulkan karena gambar yang ada pada kereta milik para raja yang menghadiri upacara-upacara besar selalu dihiasi dengan gambar berwarna merah.

Selain Majapahit dan Singosari, perang Diponegoro juga menggunakan bendera merah dan putih saat melawan Belanda pada tahun 1825 hingga 1830. Pada masa kolonialisme Oktober 1908, Budi Utomo sebagai gerakan nasionalis pertama dibentuk, Belanda ketakutan dan melakukan opresi besar-besaran terhadap gerakan-gerakan nasionalis yang memiliki banyak anggota. Para pemimpin dari gerakan-gerakan nasionalis tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah orang-orang yang telah menuntut ilmu di Belanda dan diberi bumbu-bumbu manis kemerdekaan. Pada masa ini, komunis-komunis Indonesia juga melihat kesempatan dan membuat gerakan nasionalis mereka sendiri.

Penekanan besar-besaran akan gerakan nasionalis ini berujung dengan penangkapan banyak figur-figur yang nantinya berpengaruh besar kepada merdekanya Indonesia seperti penangkapan tokoh-tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) seperti Soekarno pada 29 Desember 1929 bersama Mohammad Hatta, dan juga Sutan Sjahrir yang nantinya menjadi Perdana Menteri pertama Indonesia.

Soekarno sempat dilepaskan pada bulan Desember 1931, namun kembali ditangkap pada tanggal 1 Agustus 1933 oleh Belanda. Pada tahun 1928, Bendera Merah Putih yang dulu sempat digunakan oleh kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia kembali dihidupkan oleh para pelajar dan nasionalis di awal abad ke-20. Hal ini mereka lakukan sebagai bentuk protes dan ekspresi nasionalisme melawan Belanda. Pengibaran Bendera Merah Putih ini pertama kali terjadi di pulau Jawa pada tahun 1928, dimana saat itu Indonesia masih dalam kolonialisme Belanda, dan pengibaran bendera tersebut dilarang oleh para tentara Belanda.

Bendera-Merah-Putih.jpg

Bendera Merah Putih – Sumber: Koleksi Pribadi R.B. Reagan

Pada tahun 1940, Jepang menginvasi Indonesia dan serentak mengusir Belanda dari seluruh pelosok negeri. Baru pada bulan Maret tahun 1942, seluruh pasukan Belanda diusir dari Indonesia. Invasi Jepang ini juga kembali menyalakan api nasionalisme dari gerakan-gerakan yang tadinya ditekan habis-habisan oleh Belanda untuk kembali Berjaya.

Pada tahun 1945, pihak Jepang membuat sebuat komite yang bernama BPUPKI untuk mengatur kemerdekaan Indonesia, dan di pertemuan pertama tersebut Soepomo membicarakan tentang integrasi nasional. Pada bulan Agustus di tahun yang sama, Soekarno dan Hatta diterbangkan untuk bertemu Hisaichi Terauchi yang mengabarkan kemerdekaan akan diberikan pada tanggal 24 Agustus.

Sejarah Bendera Merah Putih baru kembali berlanjut dengan kalahnya Jepang dan diproklamasikannya kemerdekaan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945. Pada proklamasi kemerdekaan Indonesia inilah, bendera Pusaka Merah Putih pertama kali berkibar selama sehari semalam. Bendera ini dijahit oleh istri Soekarno yang bernama Fatmawati, ibu Fatmawati adalah ibunda dari tokoh ibu bangsa dan Presiden Republik Indonesia ke 5, Presiden Megawati Soekarnoputri. Dengan dasar desain bendera Majapahit yang memiliki sembilan garis merah dan putih, hingga kini, bendera Pusaka ini masih terus diikut sertakan setiap ada upacara kemerdekaan di Istana Negara.

Sebelum dan sesudah Indonesia merdeka, Soekarno menegaskan bahwa warna merah putih adalah pilihan yang tepat sesuai dengan budaya bangsa, dan sudah mentradisi di Nusantara ini. Sejarah telah membuktikannya yang dimulai dari masa kerajaan hingga sekarang. Sehingga, ketika itu ada yang mengomentari tentang pilihan warna merah putih untuk bendera nasional kita, Soekarno menegaskan kalau itu tidak perlu diperdebatkan lagi. Dan akhirnya, sejarah Indonesia juga telah membuktikan bahwa warna merah putih adalah pilihan yang tepat untuk bendera nasional atau bendera kebangsaan kita.

Ukuran Bendera Merah Putih

Ukuran resmi Bendera Merah Putih sebenarnya juga diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009. Dewan Perwakilan Rakyat.

Ukuran-Bendera-Merah-Putih.png

Ukuran Resmi Bendera Merah Putih – Wikipedia

Berikut adalah ukuran resmi untuk Bendera Merah Putih:

KetentuanUkuran Ukuran (cm) Letak Penggunaan
a 200 × 300 Lapangan Istana Kepresidenan
b 120 × 180 Lapangan umum
c 100 × 150 Ruangan
d 36 × 54 Mobil presiden dan wakil presiden
e 30 × 45 Mobil pejabat negara
f 20 × 30 Kendaraan umum
g 100 × 150 Kapal
h 100 × 150 Kereta api
i 30 × 45 Pesawat udara
j 10 × 15 Meja

Add Comment