Fakta Menarik Seputar Cabai yang Patut Kamu Tahu!

Cabai, atau yang memiliki nama ilmiah Capsicum frutescens ini, merupakan rempah-rempah yang dikenal luas oleh masyarakat di berbagai dunia. Hampir semua orang di dunia ini mungkin sudah pernah merasakan rasa pedas dari rempah yang satu ini.

Namun, tahukah kamu bahwa secara ilmiah cabai bukan merupakan jenis rempah (herb), namun merupakan jenis buah? Ternyata, cabai masih merupakan spesies turunan dari Capsicum atau yang lebih dikenal dengan Paprika. Inilah mengapa, dalam bahasa inggris, cabai disebut dengan chilli peppers yang secara harfiah berarti paprika pedas.

Cabai biasa menjadi teman pendamping banyak makanan untuk memberikan tambahan rasa pedas yang khas. Bahkan menu sambal, yang menggunakan cabai sebagai bahan utamanya, wajib berada di meja makan untuk menemani kita bersantap. Rasa pedas yang dihasilkan mampu menambah gairah dan selera makan kita.

Sensasi pedasnya pun telah menjadi inspirasi beberapa kuliner Indonesia yang populer dengan istilah-istilah seperti: bebek mercon, bakso granat, mie setan, nasi pedas, ceker pedas, mie nuklir dan masih banyak lagi.

Ia memiliki varian bentuk, warna, ukuran dan level kepedasan yang berbeda-beda. Tanaman cabai atau cabe inilah yang menghasilkan rasa pedas, bahkan bisa terasa membakar mulut untuk cabai jenis tertentu.

Kitacerdas telah merangkum beberapa hal menarik yang mungkin belum kamu ketahui seputar tanaman cabai. Mari kita simak selengkapnya!

Beberapa Fakta Unik Seputar Cabai

cabai
Cabai memiliki berbagai jenis beragam dengan rasa, warna dan bentuk yang berbeda
  1. Cabai Masuk Ke Indonesia Oleh Bangsa Portugis

Cabai tercatat sudah digunakan lebih dari 7500 tahun sebelum masehi, dan dibudidayakan sekitar 5000 tahun sebelum masehi. Buah ini berasal dari Meksiko, dan setelah Christopher Columbus datang ke benua Amerika, dia membawa cabai ke Spanyol. Setelah itu, terjadilah perdagangan berskala internasional hingga membuat cabai tersebar hingga ke benua Asia, Australia, dan Afrika.

Hingga pada akhirnya, seorang penjelajah asal Portugis bernama Ferdinand Magellan, membawa dan memperkenalkan Cabai ke masyarakat Indonesia saat rempah-rempah menjadi pusat perekonomian dunia.

Pada tahun 1519, Magellan mendarat di pulau Maluku. Dalam pelayarannya melalui samudera Atlantik menuju lautan teduh, ia melewati sebuah selat yang selanjutnya disebut selat Magellan.

  1. Memiliki Ratusan Jenis yang Beragam

Hingga kini, tercatat ada sekitar 400-an jenis cabai yang tersebar di berbagai wilayah di dunia. Ia merupakan salah satu tanaman yang paling banyak dibudidayakan di dunia karena memegang peranan yang penting dalam banyak menu makanan dunia.

Meski begitu, ada 5 jenis cabai yang paling banyak dibudidayakan, yaitu C. annuum, C. baccatum, C. chinense, C. frutescens, and C. pubescens. Dari kelimanya, jenis Capsicum annuum (cabai rawit) merupakan jenis yang paling banyak ditemukan.

Beberapa jenis cabai sangat mudah disilangkan satu dengan yang lain, bahkan tanpa perlu campur tangan manusia. Meletakkan dua jenis cabai yang berbeda berdekatan kemungkinan besar akan terjadi penyerbukan silang. Fungsi penyilangan adalah untuk mendapatkan spesies baru yang memiliki sifat unggul, seperti awet jika disimpan dan memiliki rasa pedas yang tinggi.

  1. Cabai Bermanfaat Bagi Tubuh

Tahukah kamu bahwa cabai ternyata bukan hanya berfungsi sebagai bumbu tambahan penyedap makanan? Sebagai buah, cabai ternyata juga kaya akan banyak vitamin yang baik untuk tubuh.

Banyak orang mungkin berpikir bahwa jeruk merupakan sumber vitamin c terbaik, tapi ternyata kandungan vitamin C pada cabai lebih tinggi, loh! Dan saat cabai tersebut semakin berumur, vitamin C lambat lama akan digantikan oleh beta karoten dan tingkat capsaicin di dalamnya menjadi lebih tinggi.

Karena itu, beberapa orang percaya bahwa memakan cabai dapat memberikan thermic effect, meningkatkan metabolisme dan membantu membakar kalori lebih cepat. Selain itu, ia juga memiliki vitamin A yang kaya akan antioksidan dan dapat meningkatkan sistem imun.

Cabai merah, atau juga biasa disebut dengan cayenne pepper, juga dipercaya mampu menghentikan pendarahan pada luka. Kandungan capsaicin di dalam cabai yang berfungsi memberikan sensasi terbakar juga ternyata mampu mendorong otak untuk memproduksi hormon endorfin yang dipercaya sebagai pereda rasa sakit alami.

  1. Kepedasan Pada Cabai Dapat Kamu Ukur

Tahukah kamu bahwa kamu bisa mengukur tingkat kepedasan suatu makanan?

Ia disebut dengan skala scoville dan satuannya bernama SHU (Scoville Heat Units). Sebutan ini terinspirasi dari seorang farmasis bernama Wilbur Scoville yang pertama kali menciptakan standar pengukur kepedasan.

Skala ini digunakan untuk mengelompokkan cabai mulai dari yang skala SHU rendah (manis) hingga tinggi (sangat pedas sekali). Cabai rawit yang sering kita konsumsi memiliki skala SHU sebesar 35.000.

Untuk melakukan tes kepedasan, cabai yang telah dikeringkan harus direndam di dalam cairan alkohol lalu dilapisi dengan air gula. Namun metode ini sudah tidak banyak digunakan. Para ilmuwan sudah menciptakan metode lalu menggunakan kromatografi cairan berperforma tinggi untuk mengekstrak capsaicin lalu mengukur dengan skala scoville.

Sampai saat ini, rekor cabai terpedas di dunia dipegang oleh cabai Carolina Reaper. Cabai hasil persilangan ini memiliki skala SHU sebesar 2.200.000, atau jika kita hitung, cabai ini lebih pedas 60 kali lipat dari cabai rawit.

The Trinidad Moruga Scorpion adalah cabai terpedas kedua di dunia. Sebuah studi pernah melakukan tes terhadap kandungan capsaicin di dalamnya dan karena tingkat kepedasannya yang sangat tinggi, ia mampu membolongi sarung tangan latex yang digunakan ilmuwan saat itu.

  1. Tidak Semua Bagian Cabai Terasa Sama Pedasnya

Jika kamu pernah memakan cabai saat ia masih utuh, kamu pasti tahu bahwa tidak semua bagian cabai memiliki rasa pedas yang setara. Mengapa demikian? Beberapa orang percaya bahwa biji pada cabai yang dapat menghasilkan rasa pedas. Namun ternyata, bagian dagingnya lah yang dapat membuat lidahmu terasa seperti terbakar.

Bagian cabai yang dekat dengan tangkainya biasanya terasa lebih pedas dari bagian lainnya karena di situlah kandungan capsaicin berkumpul. Kandungan inilah yang berperan memberikan rasa pedas dan sensasi terbakar.

  1. Tidak Semua Spesies Dapat Mengalami Sensasi Pedas

Kandungan capsaicin di dalam cabai memang mampu memberikan sensasi panas dan pedas yang dapat membuat iritasi jika terkena kulit mamalia. Namun tahukah kamu ternyata ada spesies yang tidak terpengaruh efek tersebut? 

Burung ternyata imun terhadap sensasi pedas dan iritasi tersebut. Inilah mengapa burung memegang peran besar dalam menyebarkan cabai liar dari satu tempat ke tempat lain saat ia memakan dan mengeluarkan bijinya melalui kotoran.

  1. Susu Mampu Menghilangkan Rasa Pedas

Tidak sengaja memakan terlalu banyak cabai hingga mulutmu terasa seperti terbakar? Jangan khawatir. Kamu dapat dengan segera menghilangkan sensasi tersebut dengan meminum susu atau meletakan sesendok yoghurt di dalam mulutmu. Cara ini ternyata lebih ampuh dibandingkan dengan meminum banyak air. Karena air malahan dapat menyebarkan sensasi panas tersebut ke seluruh bagian mulut.

Apakah informasi di atas memberikan wawasan baru untukmu? Tinggalkan pesan dan pertanyaanmu di kolom komentar, serta jangan lupa untuk membagikan tulisan ini ke teman-temanmu, ya!

Add Comment