Semua Fakta Menarik yang Wajib Kamu Tahu Seputar Komodo

Komodo, yang memiliki nama latin Varanus komodoensis ini, merupakan hewan terbesar yang ada di dalam spesies kadal. Hewan ini dapat ditemukan di Pulau Komodo dan pulau-pulau kecil di sekitarnya seperti pulau Flores, Gili Motang, Rinca dan Gili Dasami di daerah Nusa Tenggara.

Di Indonesia sendiri komodo sering disebut juga Biawak Komodo, Komodo Monitor atau oleh penduduk setempat disebut Ora. Karena keunikannya, banyak turis asing hingga mancanegara yang jauh-jauh datang ke pulau-pulau tersebut hanya untuk melihat hewan ini.

Ia mampu tumbuh hingga sepanjang 3 meter dan berbobot 135 kg. Meskipun kebanyakan dari komodo kecil yang ada kini merupakan hasil dari reproduksi, ternyata komodo betina juga mampu untuk bereproduksi tanpa proses kawin, atau biasa disebut dengan partenogenesis. Komodo bereproduksi dengan cara bertelur.

Sang betina biasanya akan menggali sebuah lubang di tanah sedalam 9 meter untuk tempatnya bertelur. Telur tersebut biasanya akan menetas di bulan April atau Mei. Dibutuhkan waktu 8 hingga 9 tahun bagi komodo kecil untuk tumbuh dewasa. Harapan hidup hewan ini adalah 30 tahun.

Komodo yang baru menetas berukuran sekitar 45 cm, dan mereka akan hidup di pepohonan selama beberapa bulan agar terhindar dari predator. Yang harus kamu ketahui adalah komodo memiliki sifat kanibalisme dan mampu memakan komodo yang lebih kecil atau bahkan sesama komodo dewasa jika persediaan makanan mereka menipis.

Seringkali juga terdapat kasus penyerangan terhadap manusia oleh komodo hingga menimbulkan luka ringan hingga yang berakibat fatal. Hewan ini memiliki gigitan berbisa yang mampu menyumbat aliran darah mangsanya. Mangsa tersebut kemudian akan mengalami pendarahan hebat atau memiliki luka terbuka akibat gigitan yang dapat mengundang bakteri untuk menginfeksinya.

Namun hewan ini jarang menyerang mangsanya secara langsung, dan lebih memilih mangsa yang sedang sekarat atau sudah mati. Beberapa hewan yang biasa ia mangsa misalnya burung, invertebrata dan mamalia.

Komodo menyukai tempat yang panas dan kering, mereka juga senang berjemur di tempat terbuka. Sebagai hewan ektotermik, komodo lebih aktif di siang hari, meskipun mereka juga menunjukan beberapa aktivitas nokturnal. Ia juga merupakan hewan yang penyendiri dan hanya berkumpul pada saat makan atau musim kawin.

Komodo mampu berlari cepat dengan posisi berdiri dengan dua kaki belakang dan ekornya. Ini biasa dilakukan saat mengejar mangsanya. Saat ia dewasa, komodo menggunakan cakarnya sebagai alat utama penyerangan.

Untuk tempat berlindung, komodo akan menggali tanah sedalam 1-3 meter. Karena ukurannya yang besar serta kebiasaannya untuk tidur di dalam lubang, komodo mampu menjaga suhu tubuhnya agar tetap hangat di malam hari.

Setelah mengambil lebih dari 80% berat tubuhnya dalam satu kali makan, komodo akan bergerak ke tempat dengan cahaya matahari yang cukup untuk berjemur. Karena memiliki metabolisme yang lambat, cara ini dilakukan untuk mempercepat pencernaan makanan karena makanan yang ia makan dapat busuk dan meracuni komodo itu sendiri jika tidak cepat dicerna. Hal ini juga membuat komodo mampu bertahan hidup selama satu tahun dengan hanya makan 12 kali.

Setelah mencerna makanannya, komodo kemudian akan memuntahkan rambut, gigi dan tanduk yang dilapisi dengan malodorous mucus. Hal ini dikenal sebagai gastric pellet.

Sejarah Penemuan Komodo

komodo
Komodo telah ada sejak zaman purba dan masih berkerabat dekat dengan beberapa jenis Dinosaurus

Komodo merupakan spesies reptil purba yang telah hidup semenjak zaman purba. Evolusi komodo dimulai dengan genus Varanus (Biawak) yang mulai berkembang di Asia antara 40-25 juta tahun yang lalu.

Hewan ini juga ternyata merupakan kerabat dekat dari dinosaurus, loh!. Hal ini dapat dilihat dari ditemukannya fosil-fosil dari jenis dinosaurus tertentu yang menunjukkan kemiripan struktur tubuh dengan komodo.

Ia ditemukan pertama kali oleh peneliti barat pada tahun 1910 dan menjadi terkenal di dunia ilmu pengetahuan sejak tahun 1911 ketika Peter Ouwens, seorang kurator pada Museum Zoologi Bogor, menerima laporan tentang penemuan satwa ini dari Perwira Pemerintah Hindia Belanda J.K.H. Van Steyn, yang selanjutnya diberi nama Varanus komodoensis.

Sejarah tentang keberadaannya juga ditemukan pada tulisan Pieter Antonie Ouwens di tahun 1912 yang berjudul “On a Large Species from The Island of Komodo”. Dari penemuan ini, muncul kesadaran dari berbagai pihak untuk menjaga kelestarian satwa ini. Semenjak itu, ekspedisi dan penelitian terhadap spesies langka ini terus dilakukan.

Menyadari perlunya perlindungan terhadap Komodo di tengah aktivitas manusia di habitat aslinya itu, pada tahun 1915 Pemerintah Belanda mengeluarkan larangan perburuan dan pembunuhan komodo.

Menurut bukti fosil komodo yang diperoleh dari Queensland, Australia, komodo ternyata berawal dari benua Australia. Sekitar 15 juta tahun lalu, tabrakan antara lempeng benua Australia dan Asia Tenggara membuat komodo mampu pindah ke kepulauan Indonesia serta memperluas keberadaannya hingga pulau Timor. Dikatakan bahwa komodo yang berada di Indonesia memiliki perbedaan dengan nenek moyangnya terdahulu yang berasal dari Australia.

Mengapa Komodo Harus Dilindungi?

Karena ukurannya yang besar dan reputasinya sebagai predator buas, komodo menjadi daya tarik yang populer bagi pengunjung kebun binatang. Di alam liar, jumlah keberadaannya semakin berkurang karena aktivitas manusia. Ini mengapa mereka dikategorikan sebagai hewan rawan punah oleh lembaga IUCN.

Inilah mengapa pemerintah Indonesia membuat UU yang melindungi komodo di alam liar dan juga membuat Taman Nasional Komodo pada tahun 1980 sebagai upaya pencegahan kepunahan.

Tidak hanya komodo, disana terdapat 277 spesies hewan lain yang merupakan perpaduan hewan yang berasal dari Asia dan Australia. Mereka terdiri dari 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptilia. Bersama dengan komodo, setidaknya 25 spesies hewan darat dan burung termasuk hewan yang dilindungi karena jumlahnya yang terbatas atau terbatasnya penyebaran mereka.

Taman nasional ini terdiri atas tiga pulau besar,  Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar serta beberapa pulau kecil. Wilayah darat taman nasional ini 603 km² dan wilayah total adalah 1817 km². Belakangan, ditetapkan pula Cagar Alam Wae Wuul dan Wolo Tado di Pulau Flores untuk membantu pelestarian komodo.

Bencana alam, kehilangan lahan habitat, kebakaran hutan, hilangnya mangsa karena perburuan berlebihan oleh manusia dan perdagangan hewan secara ilegal merupakan beberapa penyebab dari berkurangnya hewan ini.

Dengan adanya Appendix I of CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species), pemerintah internasional telah memutuskan bahwa perdagangan kulit dan spesimen komodo adalah ilegal.

Apakah informasi di atas memberikan pengetahuan yang berguna untuk kamu? Tinggalkan pertanyaan dan pesanmu di kolom komentar, serta jangan lupa untuk membagikan tulisan ini kepada teman-temanmu, ya!

No Responses

Add Comment