Apa Bedanya Katak Dan Kodok? Berikut 10 Fakta Menariknya

Mungkin masih banyak dari kamu yang beranggapan bahwa katak dan kodok merupakan hewan yang sama. Pada kenyataannya, kodok dan katak adalah hewan dengan karakteristik dan kelompok famili yang berbeda.

Katak, atau dalam bahasa inggris disebut frog, merupakan hewan amfibi dari ordo Anura. Sedangkan kodok (bangkong), atau dalam bahasa inggris disebut toad, juga merupakan anggota ordo Anura namun, termasuk juga dalam famili Bufonidae.

Jadi, katak dan kodok merupakan bagian dari ordo Anura namun, hanya kodok yang merupakan anggota famili Bufonidae.

Jika dilihat secara sepintas, kamu mungkin akan merasa sulit membedakan keduanya. Berikut beberapa hal yang harus kamu tahu agar lebih mudah melihat perbedaan antara katak dan kodok:

  1. Mayoritas dari katak memiliki kaki panjang dan kulit halus yang dibalut oleh mukus yang membuat mereka selalu terlihat basah meskipun sedang tidak berada di air. Sedangkan kodok memiliki kaki yang lebih pendek dan kulit yang lebih kasar, waterproof & tebal.
  1. Kodok lebih sering berada di darat karena didukung oleh kulitnya yang mampu bertahan di kondisi kering. Sedangkan katak lebih sering terlihat di air, karena kulitnya dapat dengan mudah kehilangan kelembapan jika berada di tempat kering.
  1. Karena memiliki kaki yang panjang, katak biasanya akan melompat. Sedangkan kodok biasanya lebih sering merangkak karena memiliki kaki yang lebih pendek.
  1. Kedua hewan tersebut juga memiliki wajah yang berbeda. Katak memiliki hidung yang lebih mancung, sedangkan kodok memiliki hidung yang lebih lebar.
  1. Saat masih berbentuk kecebong, katak memiliki tampilan yang lebih ramping dibandingkan dengan kecebong kodok yang memiliki tampilan lebih gempal. Kecebong katak juga memiliki bintik keemasan, sedangkan kecebong kodok berwarna hitam.

Untuk lebih lengkapnya, berikut 10 fakta menarik dari katak dan kodok yang wajib kamu ketahui.

Fakta Menarik Katak

katak
Kaki katak merupakan bagian yang paling banyak dikonsumsi oleh manusia

Menurut sebuah penelitian, ada sekitar 4.810 jenis atau spesies katak di muka bumi ini. Yang membedakan katak satu dengan yang lainnya adalah tempat katak hidup, warna kulit, bentuk tubuh,dan ada atau tidaknya racun pada selaput kulitnya. Berikut merupakan beberapa fakta unik mengenai katak:

  1. Katak Dapat Dijadikan Indikator Pencemaran Air

Berbeda dengan hewan lain yang kebanyakan minum melalui mulutnya, katak minum melalui kulitnya yang bisa menyerap cairan. Sedangkan mulut katak hanya digunakan untuk menelan makanannya.

Katak memiliki kulit yang permeabel atau bisa ditembus. Karena itulah, apapun bisa masuk ke dalam tubuh katak. Mulai dari air, udara, bahkan racun dari air yang tercemar. Untuk itu katak membutuhkan lingkungan yang bersih. Sedikit saja lingkungan tercemar maka katak akan terkena dampaknya secara langsung, karena limbah tersebut dapat terserap ke dalam kulitnya.

Selain itu, katak bertelur di dalam air. Telur katak hanya berlapis lendir, tidak bercangkang. Sehingga jika air tercemar, maka bakal anakan katak juga akan mati. Inilah mengapa katak merupakan indikator pencemaran air yang baik.

  1. Memiliki Gelembung Pada Lehernya

Gelembung yang terletak di leher katak atau kodok disebut dengan vocal sac. Ia mampu membesar hingga 3 kali lebih besar dari kepala katak itu sendiri saat dikembangkan secara maksimal dan berisi air.

Mayoritas spesies katak memiliki vocal sac namun, gelembung ini lebih banyak ditemukan pada katak jantan dari pada betina. Pada beberapa spesies, baik jantan atau betina keduanya memiliki vocal sac. Untuk jenis katak yang dapat dimakan, mereka memiliki dua vocal sac di setiap sisi mulutnya.

Pada katak jantan, gelembung ini digunakan pada saat memanggil katak betina saat musim kawin. Pada saat vocal sac mengembang, suara katak tersebut pun akan ikut berubah menjadi lebih nyaring. Hal ini berguna agar katak betina yang berada jauh dapat mendengar panggilan tersebut. Suara panggilan ini dapat terdengar hingga sejauh 1 mil (1.609 km). 

Pada saat seekor katak mengeluarkan suara panggilan tersebut, katak jantan lain di sekitarnya pasti akan turut melakukan hal yang sama demi berkompetisi untuk mendapatkan katak betina. Setiap jenis katak memiliki suara khasnya sendiri dan katak betina didesain untuk dapat membedakan suara panggilan dari spesiesnya sendiri. Suara tersebut juga digunakan pada saat katak jantan melindungi teritori mereka dari pejantan lain. 

Katak dapat mengembangkan vocal sac-nya dengan cara menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menyalurkannya ke dalam vocal sac, layaknya balon. Jika kamu penasaran dan ingin melihat langsung saat katak melakukan hal tersebut, pastikan kamu melakukannya pada saat malam. Karena katak hanya melakukan panggilan dan mengembangkan vocal sac-nya pada malam hari. Berikut merupakan cuplikannya:

  1. Katak Hanya Memiliki Gigi di Satu Rahang

Kita harus tahu jika katak juga memiliki gigi yang hanya terletak di rahang atasnya yang disebut Vomerine Teeth. Gigi ini berfungsi untuk membuat mangsa tak berdaya hingga akhirnya katak bisa menelannya perlahan-lahan. Lalu, terdapat juga Maxillary teeth yang terletak di rahang atasnya. Mereka tidak memiliki gigi di rahang bawah sehingga biasanya mereka memakan mangsanya dengan cara ditelan utuh. Gigi di rahang atas hanya berfungsi menekan mangsanya agar lebih mudah ditelan.

  1. Ini Perbedaan Katak Jantan Dan Betina

Bisakah kita membedakan katak jantan dan betina hanya dalam sekali pandang? Jawabannya tentu bisa! Katak memiliki telinga yang disebut tympanum. Terletak di belakang mata. Jika telinga lebih besar dari mata maka katak itu jantan. Jika lebih kecil maka katak itu betina. Selain itu, biasanya katak betina berbadan lebih besar dari jantan.

  1. Katak Dapat Dimakan Manusia

Beberapa jenis katak dan kodok bisa dikonsumsi dagingnya oleh manusia. Alternatif makanan protein pengganti daging ayam dan daging sapi yang sering dikonsumsi. Jenis seperti katak hijau (Rana macrodon) dan katak sawah (Rana cancrivora) sering diolah oleh masyarakat Indonesia sebagai makanan yang lezat.

Pada tahun 1970-an hingga 1980-an Indonesia pernah menjadi negara pengekspor katak terbesar di dunia bersama dengan India dan Bangladesh. Sebelum akhirnya ekspor katak dilarang karena bisa merusak ekosistem.

Akhirnya, Indonesia mendatangkan katak jenis baru yang disebut Bullfrog dari Amerika Utara untuk dibudidaya. Kodok yang merupakan jenis kodok sejati (true frog) ini memiliki banyak kelebihan, yaitu sangat besar (500 gram saat dewasa) dan mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan Indonesia.

Kodok jenis ini memiliki gizi yang tinggi terutama kandungan protein hingga nyaris 20 gram per 100 gram berat daging. Hampir mendekati protein dada ayam yang memiliki kandungan protein 30 gram per 100 gram daging.

Jenis katak lain yang dapat dikonsumsi adalah jenis Pig Frog atau lagoon frog dan Bronze Frog. Jika kamu tertarik untuk mencobanya, konsumsilah dengan bijak. Karena ternyata populasi katak dan kodok kini terancam punah karena perburuan manusia.

Fakta Menarik Kodok

kodok
Kodok jenis bullfrog merupakan kodok yang paling banyak dikonsumsi oleh manusia karena ukurannya yang besar

Hewan yang dapat berpura-pura mati atau mengembangkan tubuh mereka sendiri agar tampak lebih besar saat mereka merasa terancam ini memiliki harapan hidup 3 hingga 5 tahun di alam liar. Sedangkan kodok yang tumbuh di penangkaran dapat hidup hingga 39 tahun. Berikut merupakan beberapa fakta menarik lainnya tentang kodok:

  1. Mereka Tidak Mengeluarkan Suara “Ribbit” Seperti Yang Kita Kira

Saat kalian melihat kodok, kalian pasti berharap ia mengeluarkan suara “ribbit” seakan itu suara khasnya, bukan? Namun, pada kenyataannya bukan begitu suara asli seekor kodok.

Penasaran bagaimana sebenarnya suara seekor kodok? Simak video di bawah ini:

  1. Kodok Ternyata Beracun

Beberapa kodok, seperti kodok yang berada di wilayah Amerika dan memiliki bintik berwarna merah atau kuning ternyata beracun. Kodok memiliki dua kelenjar parotid di belakang kepala mereka. Kelenjar inilah yang akan mengeluarkan racun pada saat mereka merasa stres atau terancam.

Racun tersebut memiliki reaksi yang berbeda pada setiap hewan dikarenakan setiap hewan memiliki imun dan pertahanan diri yang berbeda. Efek yang diberikan adalah iritasi pada mata dan mulut, hingga bisa juga berakibat fatal bagi beberapa hewan lain. Beberapa jenis kodok seperti jenis cane toad memiliki racun yang lebih berbahaya dibanding kodok jenis lain.

Namun jangan khawatir, racun tersebut tidak berbahaya jika kamu sekadar menyentuhnya. Namun meski begitu, tetaplah berjaga-jaga dengan mencuci tanganmu setelah memegangnya. Hal ini dilakukan agar kamu terhindar dari iritasi atau alergi yang mungkin terjadi.

Racun yang memiliki tekstur seperti susu itu berfungsi untuk membuat tubuh mereka terasa tidak enak saat dimangsa oleh predator dan menjadi berbahaya saat tertelan. Namun untuk beberapa hewan yang imun terhadap racun kodok, seperti ular besar, kodok akan mengganti pertahanan tubuhnya dengan mengeluarkan urin atau membuat tubuhnya lebih keras agar sulit ditelan.

  1. Mereka Memakan Kulitnya Sendiri

Saat bertumbuh dewasa, kodok berganti kulit setiap beberapa minggu sekali. Kodok dewasa berganti kulit sebanyak 4 kali selama setahun. Kulit yang terkelupas lalu dikumpulkan di bawah lidahnya untuk lantas dimakan.

Katak juga berganti kulit, namun bedanya adalah katak hampir setiap minggu berganti kulit. Itulah kenapa kulit katak selalu terlihat lembab dan cenderung berlendir. Beberapa jenis bahkan hampir setiap hari berganti kulit. Seperti kodok, kulit lama yang terkelupas juga akan dimakan sendiri oleh katak.

  1. Kodok Tidak Memiliki Gigi

Jika katak setidaknya memiliki gigi di rahang atas yang berfungsi untuk menahan mangsanya saat akan ditelan, kodok tidak memiliki satupun gigi sama sekali.

Kebanyakan dari kodok berburu dengan cara menunggu mangsanya lewat untuk kemudian diterkam. Kodok hanya dapat menjulurkan lidahnya yang lengket untuk menangkap mangsa. Seekor kodok dapat memakan hingga 1000 serangga per harinya.

  1. Kodok Dapat Ditemukan Di Semua Benua Kecuali Antartika

Di seluruh benua yang ada di dunia ternyata terdapat berbagai jenis kodok. Namun ada satu benua yang tidak dihuni oleh satupun kodok, yaitu Antartika. Namun tidak itu saja, di beberapa negara kepulauan yang terisolasi seperti Selandia Baru, Papua Nugini dan Madagaskar, juga tidak terdapat satupun kodok.

Spesies kodok besar merupakan jenis kodok Eropa yang tersebar di seluruh daratannya. Jenis cane toad yang  merupakan jenis kodok asal Amerika Selatan dan Tengah, dibawa ke Australia untuk membasmi hama beetles di ladang tebu. Namun, kini jenis kodok tersebut dianggap sebagai hama di Australia.

Apakah fakta-fakta tersebut telah menambah pengetahuanmu? Tinggalkan pertanyaanmu terkait katak dan kodok pada kolom komentar, serta jangan lupa untuk membagikan tulisan ini ke teman-temanmu jika kamu menyukainya.

No Responses

Add Comment